Ini berawal dari ketika saya mengirimkan paket dari Nusa Dua ke Depok,sekitar 10 hari sebelum hari raya,dengan berat 11 kg dan ongkos kirim Rp 209.000,00.kira2 5 hari kemudian teman saya di Depok telpon,dan bilang bahwa paketnya sudah sampai,tetapi BUKAN dia yang menerima! Lhoooo.....Gimana ? Aku kok gak mudheng ? Ternyata katanya,ada orang lain yang telah menerima paket itu.
Lalu dicek alamat dan nomor kontak alamat yang saya tulis pada paket,sudah cocok.jadi apa masalahnya? Temanku yang lain juga beberapa kali pernah mengalami hal yang sama.Saya pikir ada 2 kronologi yang menyebabkan hal ini bisa terjadi.
Pertama,paket tidak disampaikan ke alamat,alias hilang dalam ekspedisi,mungkin dicuri,mungkin hilang saat di perjalanan,atau hal lain ?
Kedua,paket disampaikan ke alamat,TETAPI...kurir tidak meminta bukti diri si penerima.kalau bukti berupa paraf,orang kurang waras pun bisa bikin...! bukti diri yang dimaksud di sini adalah KTP/SIM, atau nomor telepon sesuai yang sudah disertakan dalam paket.
Anehnya,pihak JNE bukannya "membereskan" masalah,malah menyuruhku konfirmasi ke agen tempatku titip paket.Ini sebenarnya masalah mereka,bukan klien yang harus "diseret-seret".
Kerugian bukan hanya nilai barang paket,tetapi yang lebih besar adalah KEPERCAYAAN rekan kerja teman saya kepadanya,karena GAGAL dalam melakukan pekerjaanya yang disebabkan karena tidak adanya barang yang diperlukan.
Lalu apa pemecahan yang diberikan pihak JNE? entahlah....!
Jika isi paket itu berhubungan dengan nyawa manusia,GIMANA CERITANYA...?



